Social Icons

Pages

Featured Posts

Tuesday, May 23, 2017

Komentar untuk Tanggapan dari Tulisan 'WARISAN' Afi

Beberapa hari yang lalu aku buka line today dan membaca berita tentang siswi SMA bernama Afi Nihaya Faradisa. Dia siswi SMA yang mencuri perhatian dengan unggahan status di Facebook. Status yang bisa dibilang nakal  itu diberi judul “Warisan”. Afi mendapat combo viral. Pertama, karena isi dari statusnya yang merupakan hasil pemikiran siswi SMA itu membuat kagum para netizen. Kedua, bukan hanya status di Facebooknya, namun “status Facebooknya” juga menjadi viral. Akun siswi tersebut di-suspend, meski kemudian diaktifkan lagi oleh Facebook.

Penyebab suspend mungkin karena banyak yang tak sependapat atau mungkin “geli tersentil” oleh status Afi. Secara pribadi sih tindakan suspend tersebut seperti pembungkaman ke-kritisan generasi milenials. Padahal status tersebut juga tidak memihak atau secara gamblang menyerang pihak tertentu. Meski begitu tetap ada banyak netizen yang mendukung dan memuji kelihaian Afi dalam menyampaikan pendapat. Bahkan, ada yang memberikan balasan secara terbuka. Balasan tersebut bisa dilihat di sini.

Gilang melalui status “Teruntuk dek Afi Nihaya Faradisa” mencoba menanggapi atau bisa dibilang ingin menggurui Afi sebagai “kakak”. Tanggapan Gilang akan aku coba komentari juga, sekaligus mengomentari status Afi.

#Mari kita telisik
Pemikiran Afi sangat hebat terlihat dari kejeliannya dalam tulisannya yang rapi. Ia banyak juga mengutip kata-kata yang relevan untuk mendukung argumennya. Rasanya Afi secara tidak langsung menyebut “warisan” –dalam hal ini agama- itu juga sebagai sumber pertikaian. Menurutku, tidak juga sih. Nyatanya banyak juga yang satu agama bertikai sendiri. Namun untuk keseluruhan memang tulisan Afi layak menjadi sebuah bacaan yang harus diambil inti sarinya yang pasti bermanfaat untuk semua.

Secara garis besar, aku bilang tanggapan Gilang itu kurang nyambung. Bukan maksud merendahkan seperti cara Gilang merasa tinggi dari Afi *ehh. Karena, Afi menuliskan kegalauannya dengan kacamata yang general dan lebih luas. Sedangkan, si Gilang menggunakan kacamata yang lebih sempit yaitu, identitas –agama- tertentu.

Friday, May 5, 2017

Pulang

Jarak pandai mencipta rindu
Gemar kolaborasi dengan waktu
Merasa jauh, ku dipeluk haru
Bisikan pun terdengar menderu

Begitulah pesona
Hal jauh di sana

Meski rantau rajin menawarkan
Goda dan harapan
Cerahnya masa depan
Tetaplah rumah tempat ternyaman

Satu ingin telah tertuang
Satu pikir sering terulang
Satu kata yang terpajang
Pulang

Wednesday, March 8, 2017

Mencegah Hadirnya Orang Ketiga

Hati tidak pernah tahu kemana akan berlabuh. Karena hati selalu mencari rasa nyaman untuk ditemukan. Meskipun kadang nyaman itu datang, pada seseorang yang tak ikut mengharapkan.
Setuju gak dengan kalimat di atas? Atau mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya.
Maksud dari kata terakhir itu akan kuartikan sebagai orang ketiga. Menurut pengamatan dan pengalaman orang ketiga itu bisa menjadi suatu obat saat luka menyayat dan menjadi penghibur saat kita dan bosan melebur.

Orang ketiga itu bisa jadi positif, bisa jadi negative buat kita. Orang ketiga yang positif contohnya, saudara atau keluarga (kita atau pacar) yang selalu bisa memberi masukan positif buat memperbaiki hubungan. Sedangkan orang ketiga yang negatif yaitu orang yang selalu menyajikan telinganya kepada pacar kita, sehingga pacar kita akhirnya merasa nyaman, dan orang ketiga itu siap menjadi pelarianselingkuhan, atau malah siap menggantikan. Bahkan, bisa saja pacar kita sudah melakukan perselingkuhan tanpa kesadaran. Yak.. kenyamanan memang mampu bikin semua orang tenggelam dalam hal-hal yang awalnya gak ingin mereka lakukan. Tapi sebenarnya, orang ketiga hanya akan muncul kalau dikasih kesempatan oleh orang kedua atau orang pertama. Jadi, hati-hati aja dengan kemungkinan  yang ada. Mungkin yang lagi pacaran, sudah merasa ada hal yang janggal? Bisa aja ada orang ketiga yang menyelinap di hubungan kalian hihii. Biar kita bisa mencegahnya mending kita bahas Apa aja sih faktor-faktornya dan Kenapa bisa ada orang ketiga?

LDR

*Yang dulu pejuang LDR sekarang menjadi korban LDR, duhh miris* 

Dimana jarak itu kayak kaca pembesar yang membuat segalanya terlihat dan terasa hiperbolis. Kalau kangen, terasa kangeeen banget, soalnya susah buat ngobatin kangen. Walaupun sudah ada sarana seperti telepon ataupun video call. Kadang ada kalanya cowok itu pingin megang anunya cewek *tangan, nyubit pipi ceweknya, meluk ceweknya. Kalau cemburu, juga bakal terasa hancur banget, karena masalah itu butuh penjelasan dengan saling bertatapan. Tapi dengan adanya jarak, semua itu mustahil untuk dilakukan.

Thursday, February 2, 2017

Alasan Pulang Terasa Lebih Cepat

Curhat sedikit, akhir-akhir ini aku sering melakukan perjalanan. Nah, disetiap perjalanan yang aku rasakan itu capek dan lama banget waktunya. Tapi, pas pulang ga terasa kayak pas berangkat. Padahal jarak yang ditempuh sama, medan yang dilalui juga gak beda. Pasti pernah ngerasain kayak gitu. Jadi penasaran, Kenapa ya kalau pulang kerasa lebih cepat dibanding berangkat? 
Ternyata hal seperti itu wajar. Dan para peneliti sudah lama mengamati fenomena ini,  mereka menyebutnya dengan sebutan “Return Trip Effect”. 
Image result for return trip effect
Meski terasa lebih cepat, nyatanya perjalanan pulang  tidak benar-benar lebih cepat dari perjalanan berangkat. Setelah dipikir-pikir, itu semua hanya ada di dalam otak kita. Karena, sepertinya saat dalam perjalanan berangkat, otak kita cenderung lebih fokus untuk mencerna rute dan obyek yang kita temui sepanjang jalan. Ketika otak kita sedang fokus, persepsi otak kita terhadap waktu juga akan terasa lebih lama. Jadi keinget pas SMA, pas mencoba fokus pada pelajaran matematika di ruang kelas, entah kenapa waktu seperti terhenti dan tak jalan-jalan. Sedangkan saat pulang, jika kita melewati jalan yang sama, otak kita sudah lebih familiar, dan tak perlu lagi bekerja keras untuk fokus, sehingga persepsi otak kita terhadap waktu juga akan terasa menjadi lebih cepat. 
Dan harus disepakati, fenomena ini lebih sering terjadi ketika kita bepergian ke tempat baru yang belum dikenal, karena otak kita mencoba lebih fokus. Sedangkan di tempat yang sudah kita kenal atau lalui tiap hari, fenomena ini lebih jarang terjadi. Iya kan?
Atau mungkin, fenomena ini terjadi karena saat kita pergi, kita memiliki ekspektasi waktu untuk tiba. Sedangkan nyatanya, saat di jalan pergi, seringkali kita menemui banyak hal, yang membuat kita khawatir, sehingga kita terus mengecek target waktu kita dan membuat efek psikologis bahwa perjalanan jadi terasa lebih panjang. Sedangkan saat di jalan pulang perjalanan terasa lebih pendek, karena kita seringkali tak terbebani lagi ekspektasi waktu kita, untuk sampai. Ini menurut anak psikologi lho yaa, hehe.

Thursday, January 26, 2017

Tak Harus Melupakan Mantan

“Kamu masih aja inget mantan, Bro. Gak bosen apa?”


“Ya mau gimana lagi. Masih terus keinget dia, nih”

“Yaelah. Lupain! Move on sana….”
Image result for move on 
Beberapa teman bilang, kalau setelah putus harus cepat-cepat ngelupain mantan. Menurut mereka, mantan hanya akan menghambatmu untuk meraih masa depan. Mengingat mantan bisa menyebabkan kebuntuan pikiran sehingga seseorang lebih susah move on. Itulah sebabnya banyak teman-teman yang menyarankan agar aku segera melupakan mantan selepas tak lagi bersama.

Tapi apa iya mantan itu wajib untuk dilupakan? Bukankah sebenarnya dia yang mengajarkan makna sebuah hubungan?

Menurutku, Mantan adalah dia yang pernah mengisi hidupku. Meski akhirnya putus, tapi aku dan dia pernah berbagi banyak hal berdua.

Jujur aku ga bisa begitu saja lupa, bahwa dulu aku dan dia pernah jalan berdua, pernah makan berdua, pernah juga berbicara untuk saling memotivasi dan menguatkan. Apa iya aku bakal mudah melupakan hal manis tersebut begitu saja?Aku dan dia pernah berbagi kenangan berdua. Aku dengannya pernah tertawa bersama, menangis bersama dan bahkan menghadapi masalah bersama. Aku juga pernah menjalani berbagai kegiatan berdua. Baik yang menyenangkan atau juga yang mengharukan. Yah, meski pada akhirnya aku dan dia berakhir dengan kata "udahan". Tapi aku tak bisa begitu saja menganggap bahwa dulu aku dan dia tak pernah ada apa-apa. Banyak loh bukti kenangan bahagia yang pernah dilakukan berdua.
Mantan, Dialah yang mengajarkan padaku tentang apa itu jatuh cinta. Dulu dia pernah membuatku merasakan bagaimana dicintai dan mencintai.
Kuingat, aku dulu juga pernah ragu tentang bagaimana sebenarnya rasa jatuh cinta itu. Aku dulu juga belum tau perasaan yang aku rasa itu cinta atau bukan. Tapi semenjak ada dia, aku tahu betul bagaimana itu mencintai. Aku jadi tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dari nol
Mulai saat aku masih pertama kali suka, hingga tumbuhlah benih cinta sejalan dengan kata jadian yang terucap.
Aku juga jadi tau bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang. Perasaan yang dulu aku dapat dari orangtuaku, kini  juga kudapatkan dari orang lain. Meski memang akhirnya aku dan dia bubaran, tapi pengalaman mencintai dan dicintai itu sebenarnya layak untukaku ingat selamanya.
 
 
Blogger Templates